You are here
Home > Berita > PCNU Kota Metro rutin adakan Lailatul Ijtima

PCNU Kota Metro rutin adakan Lailatul Ijtima

Metro, Lakpesdam News

Seperti biasanya PCNU Kota Metro pada setiap bulan menyelenggarakan Lailatul Ijtima’. Kali ini, Pengajian Lailatul Ijtima’ bertempat di Masjid Al-Husna Rawasasi Metro Timur Kota Metro.18/11/2016. Dihadiri pengurus cabang NU, pengurus MWC dan Ranting se-Kota Metro dan para warga nahdiyin.

Aktifitas Lailatul Ijtima ini merupakan tradisi yang telah lama dikembangkan oleh NU, secara harfiah Lailatul berarti malam, dan Ijtima artinya pertemuan, selanjutnya Lailatul Ijtima mengandung pengertian pertemuan malam hari yang dilaksanakan setiap bulan; pada awalnya ini merupakan kebiasaan yang dilaksanakan para ulama di lingkungan NU (para pendiri NU) tepatnya setiap tanggal 15 bulan hijriyah (malam purnama) mereka selalu berkumpul disamping menjalankan amaliyah (ritual) ala tradisi NU acara selanjutnya dirangkai dengan diskusi menyangkut persoalan keorganisasian maupun tema-tema aktual.  Acara Lailatul Ijtima’ dibuka langsung secara resmi seraya mengucap alfatihah oleh Rois Surtah PCNU Kota Metro KH. Zainal Abidin.

Pada kesempatan sambutannya, Bapak Aswadi (Pengurus Masjid Al-Husna) menyampaikan bahwa masyarakat Rawasari Yosorejo ini mayoritas telah mengamalkan amalan-amalan NU akan tetapi kurang pede disebut orang NU, oleh karena itu menyampaikan pesan kepada para Pengurus NU untuk memberikan pencerahan agar warga sekitar yakin dan mantap mengamalkan ajaran NU. “Masyarakat di sini melaksanakan yasinan, baik jama’ah bapak-bapak ibu-ibu di tiap-tiap lingkungan, membacakan yasin dan tahlil kepada orang yang meninggal selama 7 hari dan lain sebagainya”, ungkap bapak Asnawi

Ketua PC NU Metro (Ali Qomaruddin) menegaskan dalam sambutannya bahwa, “NU Kota Metro berkembang bukan hanya sekedar amalan keagamaan melalui pengajian dan istighosah, tetapi juga berkembang melalui lembaga pendidikan ma’arif, yakni mulai dari, TK Muslimat, MINU, MTs, SMA, MA, SMK dan perguruan tinggi (IAIM NU Metro)”.

Selain itu juga NU Kota Metro berkembang melalui lembaga keuangan yakni Baitul Maal Wat Tamwil “Artha Buana”, yang dalam waktu dekat akan segera meresmikan gedung baru lantai 3 tambahnya. “Program-program yang telah disusun ini sebagai amanat Konfrensi tingkat cabang yang akan terus dan selalu diamalkan sebagai bentuk hikmad NU kepada masyarakat, dan agar NU semakin kuat dalam melanjutkan perjuangannya”.

Selanjutnya dalam kesempatan pemberian tausiyahnya KH. Syamsuddin Thohir menggambarkan bahwa dalam organisasi NU sederhananya nya Nunut Ulama, Nunut Kiyai, (bukan Nunut Urip, Nunut Udut).

NU sebagai pesantren besar, dimana kita sebagai santri yang manut apa kata kiyai, yaitu para Kiyai di PBNU. NU adalah Organisasi, tidak ada NU tanpa organisasi, tidak ada organisasi tanpa pengurus, tidak ada pengurus tanpa ketaatan dan tidak ada ketaatan tanpa taat kepada Allah SWT.

Kiyai Syamsudin Thohir menjelaskan organisasi terdiri dari kata organ sasi (organ bagian tubuh sasi itu terpisah-pisah), mengibaratkan organisasi seperti organ tubuh yang terpisah tapi memiliki satu tujuan. Misalnya organ yang utama adalah perut, ketika perut lapar, yang pertama kali melihat makanan ya mata, mata enggak bisa ngambil maka diantarkan kaki, kaki enggak bisa ngambil kalo kaki yang ambil kotor, maka tangan yang ambil, mulut yang makan lewat kerongkongan lalu masuk ke perut.

Lalu kalo perut kenyang siapa yang untung? Kalo perut kenyang yaa…. maka semua organ tubuh yang menikmati. Itulah fungsi organisasi, ketika NU ingin maju yang harus paham dengan ilmu organ-sasi. tambah kiyai Syamsuddin Thohir yang dikenal dengan ceramahnya yang ramah, santai, humoris dan penuh nilai. [CH]

Share

Leave a Reply

Top